Jakarta – Dalam acara Kajian Buka Puasa Bersama di PT. Arjasa Pembayaran Elektronis Jakarta sekitar tahun 2007 ustadz Adiwarman Azwar Karim bercerita kisah seorang jamaah yang tekun ibadah bernama Sya'ban, orang ini memang tidak populer namun kisahnya menjadi bahan renungan.
Sya’ban memiliki kebiasaan unik yang selalu beliau jalani sepanjang hidupnya. Kebiasaannya adalah beliau selalu hadir di Masjid Nabawi setiap waktu sebelum shalat fardhu berjamaah dimulai. Sya’ban selalu duduk di tiang masjid sambil beri’tikaf. Alasan ia memilih tiang masjid bukan supaya mudah senderan, tetapi agar tidak mengganggu jamaah lain yang ingin beribadah.
Suatu ketika, setelah shalat subuh berjamaah, Rasulullah Saw selalu berbalik menghadap jamaah untuk dzikir bersama. Saat berdzikir itulah beliau sambil memperhatikan seluruh jamaah yang hadir shalat subuh berjamaah. Rasulullah Saw mulai bertanya-tanya kenapa Sya’ban sudah 3 (tiga) hari tidak ada di posisi tempat biasanya beri’tikaf, dan tidak ada seorang pun yang melihat Sya’ban.
Setelah selesai berdzikir, Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabat dan jamaah yang hadir shalat subuh. “Ada yang tahu dimana rumah Sya’ban (hingga 3 kali)?”, semua sahabat terdiam, kemudian salah seorang jamaah menyahut, “saya tahu ya Rasulullah” mengetahui persis rumah Sya’ban.
Khawatir terjadi sesuatu terhadap Sya’ban, Rasulullah Saw meminta agar diantarkan ke rumah Sya’ban. Dengan segera rombongan Rasulullah Saw bersama para sahabat pergi untuk datang ke rumah Sya’ban. Perjalanan ditempuh lumayan panjang, hingga jarak antara masjid menuju lokasi kira-kira satu jam setengah.
Sesampainya di rumah Sya’ban, Rasulullah Saw mengucapkan salam hingga tiga kali, “Assalamu’alaikum, benarkah ini rumahnya saudaraku Sya’ban?” tidak lama kemudian ada jawaban dari dalam rumah “Wa’alaikumussalam wrwb, benar ini rumahnya Sya’bah sembari bertanya ‘siapa ya’?” Rasulullah Saw menjawab, “Saya Muhammad, Rasulullah”. Mendengar yang menjawab Rasulullah Saw, kemudian seorang wanita tua membuka pintu, dan mempersilakan masuk ke rumahnya.
Dalam perbincangan tersebut, Rasulullah Saw bertanya, “kemanakah Sya’ban sudah beberapa waktu ini tidak datang shalat berjamaah di masjid”?, Wanita itu menjawab; “suami saya sudah meninggal tiga hari yang lalu wahai Rasulullah”. Terlihat air mata menetes beliau saat mendengar ucapan itu sembari mengucapkan “innalillahi wainna ilaihi rojiun”.
Adakah wasiat atau pesan saat pak Sya’ban menjelang wafatnya? tanya Rasulullah. Wanita itu menjawab, “ada tiga kalimat pertanyaan yang membuat kami bingung, apa maksudnya yang dia katakan saat mau meninggal (sakaratul maut)”. Kalimat pertama, mengapa tidak yang lebih jauh?, kedua, mengapa tidak yang lebih baik?, ketiga, mengapa tidak semuanya?.
Mendengar tiga kalimat pertanyaan itu, Rasulullah Saw tersenyum dan bertanya kepada para sahabat, “adakah yang tahu wahai para sahabat?”, Abu Bakar Ra menjawab, “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”. Kemudian Rasulullah Saw mengurai arti tiga kalimat itu, Sya’ban ini orang baik yang Ikhlas dan istiqomah dalam beribadah sehingga diperlihatkan surga oleh Allah Swt dan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukannya, hingga diakhir hayatnya diperlihatkan tiga kebaikan yang pernah dilakukannya.
Itulah ringkasan kisah kesederhanaan seorang Sya’ban yang istiqomah beribadah dan shodaqah dalam mengharap ridho Allah Swt. Penyesalan diatas bukan bermakna menyesali perbuatannya, tetapi menyesali karena melakukan alakadarnya tidak sepenuhnya.
Terlebih penyesalan itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah Swt, dalam QS. Al-Munafiqun ayat 10; “... dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang sholeh.”
Semoga menjadi motivasi dan inspirasi diri juga untuk semua. Barokallahu fii kum.
Tulis Komentar