081286968485

Dia Pemimpin MBG; Muda, Berani, Gagah.Oleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Makkah Al-Mukarromah. Dikisahkan seorang anak muda sekitar usia 27 tahun, yang lahir di Mekkah dari Bani Adi yang masih satu rumpun dari suku Quraisy dari keturunan Abdul Uzza. Ia tergolong keluarga kelas menengah, bisa membaca dan menulis yang pada masa itu sesuatu yang sangat jarang terjadi. 

Ia dikenal memiliki fisik yang kuat, bahkan menjadi juara gulat di Mekkah. Tumbuh menjadi pemuda yang disegani dan ditakuti pada masanya. Beliau memiliki watak yang keras, berani dan galak hingga di juluki sebagai “Singa Padang Pasir”. Ia termasuk pemuda yang amat keras dalam membela agama tradisional Arab yang saat itu masih menyembah berhala serta menjaga adat istiadat mereka. Bahkan pada saat itu putrinya dikubur hidup-hidup demi menjaga kehormatan. Sebelum memeluk Islam beliau di kenal sebagai peminum berat, namun setelah menjadi muslim tidak lagi mau menyentuh alkohol, meskipun saat itu belum diturunkan larangan meminum khamr secara tegas. 

Semula ia menentang Islam bukan karena dia tidak mengerti dengan ajaran Nabi Muhammad Saw atau karena fanatik dengan agama leluhurnya, penyembah berhala. Dia memiliki pemikiran bahwa Nabi Muhammad Saw dengan ajaran barunya telah membuat masyarakat Quraisy khususnya dan masyarakat Makkah pada umumnya terpecah belah dan berkonflik. Ia tidak menghendaki keadaan seperti itu, ia ingin agar masyarakat tidak pecah, bersatu, tertib, dan stabil. Untuk mengembalikan keadaan masyarakat Quraish seperti sediakala, maka satu-satunya jalan adalah dengan menghentikan dakwah Nabi Muhammad Saw dan pengikutnya.

Paradigma pemikiran seperti itulah yang membuatnya sangat keras menentang dan memusuhi Islam. Bahkan, beberapa kali ia berpikir untuk menghabisi Nabi Muhammad Saw orang yang dianggap telah memecah belah masyarakat Quraisy. Qodarullah, manusia hanya berencana, tetapi Allah Swt Maha Kuasa atas segalanya. Ia adalah Umar bin Khattab Ra.

Awal mula memeluk agama Islam.

Suatu hari ia terburu-buru keluar dari rumahnya. Raut wajahnya begitu tampak garang dan tangan kanannnya menggenggam sebilah pedang. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Nuaim bin Abdullah dari Bani Zahra. Nuaim memperhatikan mukanya yang sangat beringas sehingga meluncur pertanyaan dari mulutnya; ”Hendak kemana engkau wahai Umar?” tanya Nuaim. “Aku mau membunuh Muhammad, dia telah bertukar agama, mengacaukan aturan Quraisy dan telah memberi malu kepada agama kita dengan memaki-maki tuhan-tuhan Quraisy. Karena itu, aku hendak membunuhnya” jawabnya. 

Mendengar jawaban yang penuh emosi itu, Nuaim berkata; ”Bagaimana engkau akan bisa selamat dari Bani Hasyim dan Bani Zahra kalau engkau membunuh Muhammad?”. “Apa maksudmu, apakah engkau juga telah meninggalkan agama kita dan memeluk agama Muhammad ?” tanya Umar.

“Wahai Umar, maukah aku tunjukkan hal yang aneh? Ipar dan anak pamanmu Said bin Zaid bin Amr, dan adikmu Fatimah binti Khattab, sudah meninggalkan agama nenek moyang kita. Aku rasa lebih baik jika engkau dapat mengurus saudaramu sendiri, wahai Umar”. Kata Nuaim. 

Setelah mendengar ucapan Nuaim, darah Umar langsung mendidih. Dia bergegas pergi ke tempat saudara perempuannya. Begitu sampai di rumah saudaranya, Umar mendengar seperti ada suara orang membaca Al-Quran (mengaji). Di tempat adiknya itu memang ada Khabab bin Art yang sedang mengajarkan mengaji kepada Fatimah dan suaminya. Mengetahui Umar yang datang, Khabab bersembunyi. Umar langsung menemui Fatimah dan suaminya.

“Suara-suara bergumam apa yang kudengar tadi?” tanya Umar.

“Cuma bicara-bicara saja”, jawab Fatimah.

“Rupa-rupanya engkau sudah meninggalkan agama nenek moyangmu?” tanya Umar lagi.

Iparnya berkata, ”Kebenaran itu bukan yang selama ini menjadi peganganmu, wahai Umar.”

Ketika itu Umar sudah tidak dapat menahan diri lagi. Dia merenggut leher baju Said dan menghantamnya keras-keras. Fatimah datang bergegas menghalangi Umar yang akan memukul kembali suaminya. Melihat sikap Fatimah, Umar makin marah. Dia menampar wajah adiknya sampai biru lebam dan meneteskan darah. Dalam keadaan yang buruk ini, Fatimah berkata, ”Memang kebenaran itu bukan yang selama ini menjadi peganganmu. Benar, kami telah memeluk Islam dan kami telah menyatakan keimanan kami kepada Allah dan Rasul-Nya. Sekarang lakukanlah apa yang engkau inginkan, Islam tidak akan pernah pudar dari hati kami”.

Kata-kata Fatimah menimbulkan suatu pengaruh aneh pada pikiran Umar. Dia memandang adiknya dengan pandangan kasih sayang, dan ketika darah mengalir di wajah Fatimah, hatinya makin sedih. Dia sangat menyesal atas sikap kasarnya itu. Lalu dengan suara yang sudah melunak, dia meminta Fatimah untuk menunjukkan lembaraan bacaan yang didengarnya sebelum masuk ke rumah tadi.  

Awalnya Fatimah enggan memberikannya, ketika melihat perubahan sikap Umar, Fatimah hendak memberikan lembaran bacaan ayat suci Al-Qur’an kepadanya. Akan tetapi dia merasa segan menyerahkannya karena Umar masih kotor. Dia lantas berkata, ”Wahai saudaraku, engkau masih dalam keadaan kotor, sedangkan ayat suci ini tidak boleh dipegang kecuali oleh orang-orang yang telah bersuci”.

Umar kemudian bangkit dan membersihkan dirinya dengan cara mandi. Setelah itu barulah Fatimah memberikan lembaran mushaf Al Quran. Ayat-ayat suci itu dibaca oleh Umar dari ayat pertama surat Thaha sampai pada firman Allah Swt : “Aku ini adalah Allah. Tiada Tuhan selain Aku. Sembahlah aku, dan kerjakan shalat untuk mengingatku”. (QS. Thaha 14). Ayat-ayat itu terasa sangat menyentuh hati nuraninya. Dia berkata seperti menggumam kepada dirinya sendiri, ”Alangkah indah dan mulia bacaan ini”.

Mendengar kalimat Umar itu, Khabab keluar dari tempat persembunyiannya, seraya berkata; ”Beruntunglah engkau wahai Umar. Kuharapkan Allah Swt telah mengabulkan do’a Nabi Muhammad Saw pernah berdo’a; ”Ya Allah, perkuatlah Islam ini dengan salah seorang yang Engkau cintai: Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam (Abu Jahal)”. Kini Allah Swt telah memilihmu, wahai Umar.” 

Dari rumah Fatimah, kemudian Umar pergi menemui Rasulullah Saw dan menyatakan keislamannya. Setelah masuk Islam, Umar usul kepada Rasulullah Saw agar dakwah Islam ini dilakukan secara terang-terangan. “Mengapa kita menyembunyikan agama kita, sedangkan kita berada di atas jalan yang benar dan selain kita berada di atas jalan yang batil?” kata Umar. Rasulullah Saw menjawab, ”Golongan kita masih sangat sedikit, sedangkan engkau telah menyaksikan sendiri apa yang harus kami tanggung”. Umar kemudian berkata, ”Demi Allah yang mengutusmu dengan agama yang benar. Sekarang tidak ada lagi tempat-tempat yang pernah mengingkarimu melainkan engkau dapati tempat-tempat itu beriman kepadamu”. 

Setelah itu Rasulullah Saw keluar menuju Ka’bah bersama kaum Muslimin dalam dua barisan. Satu barisan dipimpin Umar dan barisan lainnya dipimpin Hamzah. Demonstrasi yang dilakukan kaum Muslim ini menggetarkan kaum Musyrik dan mereka tidak berani mengganggunya. 

Rasulullah Saw pernah berkata; “Seandainya ada Nabi lagi, itulah Umar”. Ya Umar Bin Khattab Ra memang lelaki pemberani. Bahkan jika ia jalan, setan-setan ketakutan dan pada menyingkir. Dalam dirinya menyatu keshalehan, keberanian, kezuhudan, kecerdasan dan kepedulian.

Keberaniannya sulit dicari tandingannya. Ketika ia masuk Islam, ia berani berdiri di hadapan kaum kafir menyatakan keislamannya. Tokoh-tokoh kafir tidak berani berkelahi dengan Umar. Umar salah satu tokoh yang ‘menyebabkan dakwah Rasulullah Saw berpindah dari sirriyah (sembunyi-sembunyi) menjadi jahriyah (terang-terangan)’.

Sehingga beliau dinobatkan menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. Umar yang dikenal kezuhudannya, tidak mau istananya berlapis emas, seperti yang biasa dilakukan Raja Romawi dan Persia. Padahal dengan kekayaan negara yang dikelolanya ia mampu untuk membangun istana yang mewah. Seorang raja pernah melihat Umar tidur di bawah pohon dan ia memuji Umar bisa tidur nyenyak seperti itu karena keadilan yang dijalankannya. Ketika Umar memerintah ia melarang keluarganya mengambil harta dari Baitul Mal (Kas Negara).

Sebagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra, Ustman bin Affan Ra dan Ali bin Abi Thalib Ra, Umar Bin Khattab Ra adalah pemimpin yang cerdas. Di masanya; Mesir, Palestina dan lainnya ditaklukkan. Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw senantiasa menjadi pedomannya dalam mengambil keputusan-keputusan negara.

Kepeduliannya kepada rakyat miskin luar biasa. Ia seringkali keluar malam hari untuk melihat kondisi rakyatnya. Bahkan ia pernah memanggul sendiri karung bahan makanan, ketika melihat ada rakyatnya yang dilanda kemiskinan. Ia juga dengan segera menyelesaikan permasalahan ‘seorang wanita yang bersenandung sendiri’ karena ditinggal suaminya pergii berjihad. Saking peduli kepada rakyat dan negaranya, hingga ia pernah mengatakan bahwa kalau ada keledai terpeleset, maka itu tanggungjawabnya.

Subhanallah, barokallahu.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds