081286968485

Dia Bukan PengemisOleh : AHMAD NURUL IHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Gunung Karang – Ketika masih di kampung selalu diajak sama kang haji keliling ke beberapa taklim undangan di Wilayah Kabupaten Pandeglang. Dari Caringin, Pagelaran, Menes, Gunung Pulosari dan daerah lainnya. Dalam satu sesi kang haji menyampaikan kisah seputar keteladanan dan kebijaksanaan seorang pemimpin yang menjadi panutan bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Salah satu kisah yang disampaikan menggambarkan keteladanan sosok panglima pemimpin umat. Suatu hari di bulan Ramadhan, setelah ia bekerja seorang lelaki tua duduk di bawah pohon kurma di dekat Masjid Kufah, masjid yang sangat bersejarah bagi umat Islam. Lelaki tua itu tampak membuka perbekalannya, dengan menu berbuka puasa yang sangat sederhana. Sepotong roti kering dan sebotol air putih. 

Tidak lama kemudian, datang seorang pengemis mendekat, seraya berkata; "Bolehlah aku berbuka puasa denganmu, wahai lelaki tua?" tanya pengemis. "Oya silakan, mari berbukalah denganku, dengan senang hati." ujar lelaki tua itu. Kemudian, sang pengemis berkata, "Maaf, rotimu terlalu keras untukku, aku tidak kuat mengunyahnya", katanya. "Oooh, kalau engkau ingin berbuka puasa dengan roti dan makanan hangat, enak yang berkualitas. Pergilah ke sana, rumah Hassan bin Ali", perintahnya, sembari menunjuk ke arah rumah Sayyidina Hassan Ra. 

Pengemis itu berjalan menuju ke arah rumah Sayyidina Hassan Ra. Dari kejauhan tampak cucu Rasulullah Saw itu sedang menyiapkan makanan berbuka puasa untuk kaum dhu’afa, makanan dan minuman yang berkualitas baik. 

Sayyidina Hassan Ra melihat sang pengemis dan melambaikan tangan, mengundangnya untuk buka puasa bersama dan kaum dhu’afa lainnya. Sang pengemispun menikmati makanan berbuka dengan sangat lahap bersama Sayyidina Hassan Ra dan kaum dhu’afa lainnya dalam satu jamuan. Lantas, sang pengemis menyisakan makanannya dan membungkus sisa makanan tersebut. 

Melihat hal itu, Sayyidina Hassan Ra mendekat dan bertanya; "Untuk siapa sisa makanan itu? Tidak perlu membungkusnya. Habiskan saja makananmu. Kalau masih kurang, aku akan membungkuskan makanan lagi untukmu!." 

"Aku membungkus makanan ini bukan untukku, tetapi untuk pengemis tua yang duduk di pohon kurma di pinggir Masjid Kufah. Kasihan dia memakan makanan berbuka hanya dengan sepotong roti keras yang berkualitas kurang baik dan sebotol air saja", jelas pengemis.

Sayyidina Hassan Ra tersenyum dan berkata; "Dia bukan pengemis. Dia adalah Ali bin Abi Thalib Ra, ayahku. Dia adalah seorang kepala negara, panglima tentara dan pemimpin umat".

Sang pengemis kaget sembari meneteskan air mata dan bertanya; "tetapi mengapa dia berbuka puasa dengan roti keras yang sulit dikunyah. Roti yang berkualitas kurang baik?", tanya pengemis.

Sayyidina Hassan Ra menangis sambil berkata dengan linangan air mata; "Memang seperti itu kebiasaannya, beliau selalu memakan makanan yang biasa di makan orang-orang miskin. Karena menurutnya, ketika kondisi ummat dalam kemiskinan dan kelaparan, tidak layak bagi seorang pemimpin seperti dirinya memakan makanan yang lebih baik dari apa yang dimakan oleh rakyatnya. Seorang pemimpin harus memakan makanan yang sama seperti yang dimakan oleh rakyatnya", tandasnya.

Di tengah perubahan zaman, seorang pemimpin sebaiknya memberikan tauladan dan mencerminkan kebaikan, bahwa jabatan atau kedudukan bukanlah sekadar ruang kepentingan dan kekuasaan, melainkan amanah yang harus dijaga, meningkatkan kepedulian, dan berhati nurani untuk kemajuan peradaban umat.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds