Keterangan Gambar : foto spesial kajian Nurul Bayan
GunSin, Bogor - Ta’lim Rutin Majlis Ta’lim Nurul Bayan Pusat diselenggarakan di Pendopo Wali Gunung Sindur, Bogor pada Sabtu, 18 Juli 2026. Pembahasan Tafsir Al Maraghi dan Kitab Fathul Mu’in oleh DR. KH. Marullah Matali, LC, MA, yang dihadiri oleh jamaah dari Jabodetabek. Program spesial dengan istilah; “Dengan Bismillah Ajak Jamaah Ngaji dan Mancing”.
Secara umum ngaji bisa bermakna mempelajari kitab suci Al-Qur’an atau memperdalam kitab dan ilmu agama Islam. Sedangkan mancing bisa bermakna aktifitas, rekreasi atau relaksasi sambil melatih kesabaran. Namun menurut penulis, ngaji adalah ngasah jiwa, sedangkan mancing adalah agar iman makin meruncing (tajam). Jadi ngaji dan mancing adalah ngasah jiwa agar iman semakin runcing (tajam/kuat).
DR. KH. Marullah Matali, LC, MA, membahas Tafsir Al-Maraghi, karya Syekh Ahmad Mustafa Al-Maraghi yang menjelaskan bahwa Ar-Rahman (Maha Pengasih) adalah sifat kasih sayang Allah Swt yang bersifat umum di dunia, mencakup seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Sementara itu, Ar-Rahim (Maha Penyayang) bermakna khusus, yakni kasih sayang-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di dunia dan secara kekal di akhirat kelak.
Lebih lanjut, bahwa Al-Maraghi menguraikan penafsiran kedua nama ini melalui pendekatan kebahasaan dan teologis, Ar-Rahman; Mengikuti wazan (pola kata) fa'lan, yang menunjukkan sifat yang melimpah dan penuh (ekstra). Rahmat ini adalah anugerah Allah Swt yang meliputi seluruh ciptaan-Nya; memberi makan, rezeki, dan kelangsungan hidup baik kepada orang mukmin maupun kafir.
Sedangkan Ar-Rahim: Mengikuti wazan fa'il, yang menunjukkan sifat yang tetap dan berkelanjutan (kontinyu). Rahmat ini adalah bentuk perlindungan, hidayah, dan pertolongan Allah Swt yang diberikan khusus bagi mereka yang taat dan beriman, yang akan memuncak dalam bentuk kenikmatan surga.
Jadi, kedua kata ini bersumber dari akar kata yang sama, yakni rahim (rahim ibu), yang menggambarkan betapa dekat dan besarnya kasih sayang Allah Swt kepada makhluk-Nya layaknya seorang ibu yang melindungi dan menyayangi anaknya sejak dalam kandungan.
Mari kita berfikir kembali, dari manakah kasih sayang yang kita terima berasal? Siapakah yang menggerakkan hati manusia untuk mencintai yang menyayangi kita? Sejak kita hidup bergantung kepada ASI ibu hingga menua bergantung kepada sanak saudara.
Dialah Allah, Dzat Maha Penyayang lagi Maha Pengasih yang telah memberikan kita nikmat begitu banyak tak terhitung jumlahnya. Allah Swt berfirman; “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nahl ayat 18).
Para ulama tafsir mengajukan
tiga makna atas lafadz Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yaitu:
Pertama, lafadz Ar-Rahman menunjukkan makna kasih sayang Allah Swt kepada seluruh makhluk selama di dunia. Sedangkan lafal ar-Rahim menunjukkan makna kasih sayang Allah Swt kepada orang beriman secara khusus di akhirat. Hal ini berdasarkan dalil hadist. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda “Sifat Maha Penyayang Allah (ar-Rahman) diberikan selama di dunia dan sifat Maha Pengasih Allah (ar-Rahim) diberikan khusus ketika di akhirat kelak.” (kitab tafsir al-Bahr al-Muhith fi Tafsir karya syeikh Abu Hayan al-Andalusi vol.1 hal.30 cetakan Dar Fikr Beirut tahun 2007).
Kedua, lafadz Ar-Rahman menunjukkan makna kasih sayang Allah Swt yang sangat agung. Sedangkan lafadz Ar-Rahim menunjukkan makna kasih sayang Allah Swt yang sangat detail nan terperinci.
Ketiga, lafadz Ar-Rahman menunjukkan makna kasih sayang Allah Swt yang sangat banyak. Sedangkan lafadz Ar-Rahim menunjukkan makna kasih sayang Allah Swt yang abadi.
Pendapat kedua dan ketiga bersumber dari hasil menggali makna asal dari lafadz Ar-Rahman dan lafadz Ar-Rahim. Dalam bahasa arab, lafadz Ar-Rahman dan lafadz Ar-Rahim berasal dari akar kata yang sama yaitu lafadz Rahima. Dalam kamus Lisan al-Arab karya Ibnu Mandzur, akar kata Rahima bermakna berlaku lembut dan berkasih sayang kepada orang lain.
Akar kata Rahima menjadi Rahman sebagaimana kata Ghadhaba menjadi Ghadhban dengan sebab mengikuti wazan Fa’lan. Dalam bahasa arab wazan fa’lan bersifat hiperbolis. Sehingga kata Rahman bermakna sangat banyak kasih sayangnya atau sangat besar kasih sayangnya. Sebagaimana juga, kata Ghadban bermakna sangat banyak marahnya atau sangat besar marahnya.
Dapat disimpulkan bahwa Aar-Rahman dalam surat Al-Fatihah bermakna “Allah, dzat yang Maha Penyayang dengan kasih sayang yang sangat banyak nan agung dan diberikan kepada seluruh makhluknya.”
Sifat Rahman hanya milik Allah semata. Tidak boleh dipakai untuk mensifati selain Allah Swt karena lafadz Rahman adalah sifat dzat. Kedudukan lafadz Rahman sebagai sifat dzat menunjukkan makna “Hanya dari Allah lah sumber seluruh nikmat yang tak terhitung jumlahnya”. Hal ini berdasarkan dalil al-Qur’an: “Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)…" (Qs. Al-Isra’ ayat 110)
Kemudian, ada sebuah pertanyaan “Mengapa lafadz Ar-Rahman dan Ar-Rahim diulangi dua kali dalam surah al-Fatihah?”
Syeikh Muhammad Al-Qurthubi mengatakan; “Allah Swt menegaskan kembali sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim (dalam ayat ketiga surah al-Fatihah) sebagai ajakan agar hambanya mendekat kepada-Nya. Setelah sebelumnya sang hamba merasa sangat takut akan keagungan Allah Swt dalam sifat Rabbal ‘Alamiin (tuhan semesta alam).” (kitab tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya syeikh Muhammad al-Qurthubi vol.1 hal.121 cetakan Dar ar-Rayyan li Turats Kairo 2001).
Walhasil, harapan akan kasih sayang Allah serta rasa takut akan siksaan dari-Nya harus berjalan beriringan dan seimbang layaknya dua sayap burung. Inilah hikmah mengapa dicantumkan lafal “ar-Rahman ar-Rahim” pada ayat ketiga surah al-Fatihah.
Diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah Saw bersabda “Seandainya seorang yang beriman mengetahui siksaan di sisi Allah, niscaya tidak akan ada seorang pun yang berharap surga-Nya. Dan seandainya seorang yang kafir mengetahui kasih sayang Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang putus asa atas mengharap surga-Nya.” (HR.Muslim).
Allah Swt perintahkan memulai dengan basmalah menjadi petunjuk bagi manusia dan mulai segala sesuatu diawali dengan bismillah. Setiap urusan yang mempunyai tujuan yang baik tanpa diawali dengan bismilah maka ia akan terpotong. Tidak mendapatkan berkah atau kurang.
Orang Arab sebelum datang Nabi Muhammad Saw memulai dengan nama dewa mereka, mereka menyebut atas nama tuhan latta wa uzza, begitu juga umat lainnya. Maka apabila seseorang ingin melakukan suatu perkara yang bisa diterima maka katakan saya melakukan ini atas nama raja saya, yakni perbuatan itu tidak akan terwujud sekiranya tidak ada raja saya.
Oleh karena itu, ketika Islam datang maka mengucapkan BISMILLAH. Kalau begitu makna Bismillahirrahmanirrahim adalah sesungguhnya aku melakukan itu atas perintah Allah Swt, dan karena Allah Swt, bukan karena bisa-bisanya aku dan syahwat atau dorongan atau semangatnya, tetapi karena Allah Swt semata.
Bahasan Penutup Seputar Kitab Fathul Mu'in tentang Qodho Sholat yang Ditinggalkan.
Dalam Kitab Fathul Mu'in karangan Syekh Zainuddin Al-Malibari, secara tegas membahas kewajiban mengqodho (mengganti) sholat yang ditinggalkan. Menurut kitab ini, semua shalat yang tertinggal -baik karena udzur (lupa atau tertidur) maupun sengaja ditinggalkan- tetap wajib di qodho.
Rincian hukum dan ketentuan mengqodho sholat dalam kitab tersebut;
Sengaja VS Karena Udzur; Sholat yang ditinggalkan karena udzur (seperti lupa atau tertidur lelap) hukumnya tidak berdosa dan tidak wajib diqadha secara langsung (fauran). Sebaliknya, sholat yang sengaja ditinggalkan tanpa udzur mewajibkan pelakunya untuk segera mengqodhonya.
Tertib Waktu Sholat (Tartib); Seseorang wajib mendahulukan qodho sholat yang ditinggalkan tanpa udzur daripada mengqodho sholat yang ditinggalkan karena udzur.
Waktu Mengerjakan; Disunahkan untuk menyegerakan qodho sholat yang tertinggal karena udzur, kecuali jika dikhawatirkan waktu sholat fardhu yang sedang berlangsung akan habis.
Wallahua’lam bishshowab.
Tulis Komentar