Keterangan Gambar : KH MM
Boponter – Dalam Kajian Ta’lim Nurul Bayan Unit Masjid Jami Al
Ittihad, Bojong Pondok Terong, Cipayung, Kota Depok, Selasa Malam Rabu 01
September 2026. KH. Dr. Marullah Matali, LC, MA melanjutkan bahasan Kitab
Nashoihud Diniyyah karya Al Imam Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad membahas
seputar Muroqobah.
Muraqabah adalah konsep spiritual dalam Islam yang merujuk pada kesadaran mendalam bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi segala gerak-gerik manusia, baik secara lahir maupun batin.
Istilah ini berasal dari bahasa Arab, Raqaba yang berarti “mengawasi” atau “memantau”. Dalam praktiknya, muraqaba tidak hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga menjadi landasan untuk membentuk kepribadian muslim yang bertakwa dan berakhlak mulia.
Dengan muraqabah, seorang hamba merasa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah, sehingga ia menghindari perbuatan dosa dan memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.
Konsep muraqabah erat kaitannya dengan keikhlasan dan ketaatan. Rasulullah Saw bersabda dalam hadist qudsi: “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu” (HR. Muslim).
Hadist ini menjadi dasar utama bahwa muraqabah adalah inti dari ihsan, tingkat tertinggi dalam beribadah. Melalui muraqaba, seorang muslim tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga menjadikan seluruh hidupnya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Makna Muroqobah
Secara harfiah berarti “pengawasan” atau “kesadaran akan
kehadiran Allah Swt”. Dalam konteks tasawuf, muraqabah adalah keadaan hati yang
selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, baik dalam keadaan sendirian maupun di
tengah keramaian. Konsep ini meliputi tiga aspek utama:
1. Pengawasan atas niat: Memastikan setiap tindakan
dilandasi keikhlasan untuk Allah.
2. Pengendalian diri: Menjauhi maksiat dan menjaga
perilaku sesuai syariat Islam.
3. Refleksi spiritual: Evaluasi diri secara berkala untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 4: “Dan
Dialah yang bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menegaskan bahwa muraqaba bukan sekadar teori, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Allah Swt selalu mengawasi kita, di mana pun dan kapan pun, sehingga kita harus senantiasa menjaga diri dari perbuatan yang tidak diridhai-Nya.
Tingkatan Muroqobah
Muraqabah memiliki tingkatan yang berbeda, tergantung
kedalaman kesadaran seseorang terhadap pengawasan Allah Swt:
1. Muraqabah pada Hati (Qalb). Tingkat dasar di mana seseorang
mulai menyadari bahwa Allah mengawasi perbuatan lahiriahnya. Contoh: Menjaga
shalat tepat waktu dan menghindari ghibah .
2. Muraqabah pada Ruh. Kesadaran bahwa Allah Swt juga
mengawasi pikiran dan perasaan. Pada tahap ini, seseorang menjaga hati dari
iri, sombong, atau prasangka buruk .
3. Muraqabah pada Rahasia (Sirr). Tingkat tertinggi di mana
seseorang merasakan kehadiran Allah Swt dalam setiap detak jantung dan nafas.
Ia tidak hanya menghindari dosa, tetapi juga mengisi waktu dengan dzikir dan
amal kebajikan .
Muroqobah dalam keseharian
Berikut contoh praktik muraqabah yang bisa
diterapkan:
1. Khusyuk dalam Shalat. Menghindari gangguan saat shalat
dan fokus sepenuhnya pada komunikasi dengan Allah. Misalnya, mematikan gadget dan
memilih tempat tenang .
2. Menjaga Lisan dari Dosa. Berpikir sebelum berbicara,
menghindari ghibah, dusta, atau kata-kata kasar. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa
beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata baik atau diam” . (HR.
Bukhari) .
3. Bersedekah secara Diam-Diam. Memberikan bantuan tanpa ingin
dipuji. Allah Swt berfirman: “Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu
baik. Tapi jika menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang fakir, itu
lebih baik bagimu” (QS. Al-Baqarah: 271) .
4. Mengontrol Pandangan. Menundukkan mata dari hal-hal yang
diharamkan, seperti aurat atau konten tidak senonoh di media sosial .
5. Evaluasi Diri Sebelum Tidur. Merenungkan kesalahan sepanjang
hari dan bertekad memperbaikinya. Contoh: Meminta maaf kepada orang yang
dizalimi atau meningkatkan kualitas ibadah esok hari.
Intinya, muraqabah adalah kunci untuk membentuk kepribadian muslim yang berintegritas dan dekat dengan Allah Swt. Dengan selalu merasa diawasi, kita terdorong untuk berbuat baik dan menjauhi kemaksiatan.
Mau muroqobah di tanah suci ? ayo kita berjamaah ibadah umroh.
*Penulis : Sekretaris DMI Bojong Pondok Terong, Cipayung, Depok.
Tulis Komentar