081286968485

Ketika Allah Swt MenegurnyaOleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Makkah – Dikisahkan, suatu hari seorang utusan Allah Swt yang sangat terkenal dengan kedermawanannya sedang menyiapkan jamuan makanan. Seperti biasanya setiap hari beliau tidak pernah makan sendirian, selalu mengajak orang lain, tamu musafir atau orang miskin yang beliau ajak makan bersama. Namun pada hari itu sangat berbeda, ada seorang lelaki tua yang berusia sekitar 70 tahun dari kalangan Majusi penyembah api datang menghampiri rumah utusan Allah Swt, wajahnya terlihat letih, pakaiannya lusuh, jelas ia sangat haus dan lapar. Utusan Allah Swt pun menyambutnya dengan baik, kemudian bertanya dengan lembut tentang keadaannya. 

Setelah sedikit berbincang, lantas utusan Allah Swt mengajak tamunya untuk menyantap makanan yang telah tersedia, saat didepan hidangan beliau berkata; “ucapkan nama Allah terlebih dahulu sebelum memakannya”, lelaki tua itu terdiam lalu menjawab dengan jujur, “aku tidak mengenal tuhanmu, aku tidak menyembah tuhan Allah”. Utusan Allah Swt terkejut, hatinya sangat dipenuhi kecintaan besar kepada tauhid, tanpa bermaksud kasar beliau berkata, “maafkan, bahwa saya tidak bisa mengajak makan jika orang itu tidak mau mengakui Allah, karena semua rezeki ini datangnya dari Allah Swt”. 

Utusan Allah Swt itu adalah Nabi Ibrahim AS.

Lelaki tua itu akhirnya pergi dengan merasa dan menahan perut lapar, ia pergi melangkah jauh dengan gerak kaki yang lemah. Tidak lama setelah itu, Allah Swt langsung menegur utusan-Nya melalui wahyu, “Wahai Ibrahim, ketahuilah selama 70 tahun Aku memberi makan orang itu padahal ia tidak beriman kepada-Ku, mengapa engkau tidak sabar untuk memberinya makan hanya untuk sekali ini saja?”. Mendengar teguran itu, Nabi Ibrahim AS gemetar, tidak terasa air matanya berlinang, dan langsung ia berlari mengejar lelaki tua itu, ketika berhasil ditemukannya Nabi Ibrahim AS memeluknya dengan penuh cinta dan kasih sayang sembari berkata, “maafkan saya, kembalilah ayo makan bersamaku, aku sangat keliru”, kata Nabi Ibrahim AS. 

Lelaki tua itu heran, kemudian bertanya, “apa yang membuatmu berubah pikiran ?”, Nabi Ibrahim AS menjawab, “aku ditegur oleh Tuhanku, Dia tetap terus memberimu rezeki walau engkau belum beriman kepadanya”. Mendengar jawaban itu, hati lelaki tua tersentuh, ia berkata, “Tuhan seperti itulah yang layak disembah”, saat itu juga ia mengucapkan keimanannya kepada Allah Swt. Cerita ini bisa dijumpai dalam salah satu kitab induk tasawuf, ar-Risalah al-Qusyairiyah karya Imam Abul Qasim al-Qusyairi an-Naisaburi.   

Hikmahnya adalah sesungguhnya Allah Swt Maha Pengasih kepada semua makhluknya, bahkan orang yang belum berimanpun tetap dikasihnya. Disinilah akhlak terpuji akan selalu memberikan kebaikan, dengan memberi makan dan menolong orang lain tidak boleh dibatasi dengan kebencian terlebih karena berbeda keyakinan. 

Dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw bersabda; “Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan (kepada orang lain). (HR. Ahmad dan Hakim). Bahkan dalam hadits lain Rasulullah Saw mengaitkan keimanan seseorang dengan perintah memuliakan tamu, “Barang siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dengan demikian, kesediaan untuk memuliakan tamu menjadi salah satu pertanda akan komitmen seseorang terhadap syariat Islam. Selain itu, orang yang memuliakan tamunya berarti telah meneladani akhlak para nabi dan mempraktekkan tata krama orang-orang yang mulia. Begitu pun dengan kesediaan untuk berbagi makanan kepada yang membutuhkan. 

Memuliakan tamu bisa ditampilkan dalam bentuk menyambut kedatangannya dengan penuh keikhlasan dan kebahagiaan, menunjukkan raut muka yang menyenangkan dan membicarakan hal-hal yang baik dengannya. Selain itu, memuliakan tamu juga bisa diwujudkan dengan menempatkannya di tempat yang baik, melayani dan menyiapkan makan minum serta keperluannya. 

Imam Ghazali berkata, “Setiap kali seseorang datang menemuimu, maka sediakanlah keperluannya dan persiapkan dirimu untuk menjamunya. Namun, jika kamu datang bertamu menemui seseorang, janganlah merepotkan tuan rumah.”

Wallahua’lam bishshowab.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds