Makkah, Arab Saudi – Pertama kali ikut menyolatkan jenazah atau mayat di Masjidil Haram, Mekkah pada tahun 2013 saat menunaikan ibadah umroh. Di depan berjejer barisan jenazah yang akan di shalatkan, begitu nampak kain penutup dengan warna yang berbeda-beda, seperti pelangi; ada coklat, hitam, hijau, kuning, biru, dan putih. Tidak jarang juga, ada jenazah yang bagian kepala dan wajahnya dibiarkan terbuka dan tertutup. Hal ini menimbulkan tanda tanya, khususnya bagi diri sendiri dan jamaah umroh dan haji asal Indonesia yang terbiasa dengan kain kafan putih polos.
Apa sebenarnya makna di balik perbedaan warna kain kafan itu
?
Pada dasarnya kain kafan tetap warna putih, warna lain hanya lapisan tambahan, seluruh jenazah tetap dikafani dengan kain putih (boeh, kata orang sunda) sesuai syariat Islam. Warna-warna yang terlihat hanyalah kain tambahan atau selimut luar yang digunakan setelah proses pengafanan. Kain tambahan ini memiliki fungsi praktis sekaligus administratif, terutama dalam pengelolaan jenazah dalam jumlah besar di Mekkah. Setiap jenazah biasanya dimandikan di lokasi yang berbeda, lalu dibawa ke Masjidil Haram untuk dishalatkan. Perbedaan warna menjadi penanda asal atau identitas jenazah agar tidak tertukar.
Alasan ini lahir dari kebutuhan pengelolaan jenazah yang sangat kompleks di kota suci tersebut. Dengan banyaknya jamaah dari berbagai negara, penggunaan kode warna membantu petugas dan keluarga mengenali jenazah dengan cepat dan efisien. Artinya, warna bukan simbol status atau perbedaan derajat, melainkan bagian dari sistem pengaturan yang rapih dan terorganisir.
Makna dan kode warna kain penutup jenazah yang umum
ditemukan
1. Coklat, digunakan untuk jenazah
laki-laki dewasa
2. Hitam, untuk jenazah perempuan dewasa
3. Putih, khusus bagi yang meninggal dalam
keadaan ihram
4. Hijau dengan penutup (bumbung) menandakan
jenazah anak-anak
5. Biru, biasanya berasal dari rumah sakit
6. Kuning, diperuntukkan bagi tokoh atau figur tertentu
Meski demikian, sistem ini tidak bersifat mutlak dan bisa berubah tergantung kondisi serta kebijakan pengelolaan setempat.
Mengapa ada jenazah yang tidak ditutup kepalanya ?
Hal ini berkaitan dengan kondisi khusus, yaitu ketika seseorang meninggal dalam keadaan ihram (saat haji atau umrah). Dalam ajaran Islam, jenazah yang sedang berihram memiliki perlakuan berbeda. Jenazah tetap dimandikan dan dikafani, tetapi tidak diberi wewangian, serta wajah dan kepalanya tidak ditutup. Aturan ini mengikuti tuntunan Rasulullah Saw, sebagai bentuk penghormatan terhadap kondisi ihramnya yang dianggap masih berlangsung hingga hari kiamat.
Perbedaan pada jenazah perempuan, biasanya terdapat penutup tambahan di bagian atas tubuh yang menyerupai pelindung atau keranda kecil. Ini bertujuan menjaga aurat dan kehormatan jenazah selama proses shalat berlangsung. Bukan perkara derajat atau kedudukan, tetapi ketertiban penting untuk dipahami, perbedaan warna ini sama sekali tidak menunjukkan perbedaan kedudukan di hadapan Allah Swt. Dalam Islam, semua manusia setara, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan amal ibadahnya.
Dengan sistem warna ini justru mencerminkan bagaimana pengelolaan jenazah di Masjidil Haram dilakukan secara profesional, tertib, dan tetap menghormati setiap individu. Penutup di balik warna-warni kain penutup jenazah di Masjidil Haram, tersimpan sistem yang rapih, makna syariat yang dalam, serta penghormatan tinggi terhadap manusia, bahkan setelah meninggal dunia. Bagi umat Muslim, ini menjadi pengingat bahwa kematian adalah perjalanan yang sama bagi semua, sederhana, penuh makna, dan kembali kepada Sang Pencipta tanpa membawa apa pun selain amal shaleh.
Ingatlah dalam Al-Qur’an bahwa Allah Swt berfirman; “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Kemudian hanyalah kepada Kami kalian dikembalikan”. (QS. Al-Ankabut ayat 57).
Semoga
bermanfaat, aamiin.
Tulis Komentar