Serang – Banten. Sekilas biografi seorang ulama Indonesia asal Banten, Syaikh Nawawi al-Bantani, yang memiliki nama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, lahir di Kampung Tanara, Serang, Banten, pada tahun 1230 H (1813 M). Ia adalah keturunan ke-12 dari Maulana Hasanuddin, raja pertama Banten. Ayahnya, KH. Umar bin Arabi, adalah seorang ulama lokal, sedangkan ibunya bernama Zubaidah. Sejak usia lima tahun, Syaikh Nawawi mulai belajar ilmu agama dari ayahnya dan melanjutkan pendidikan dengan ulama terkenal di Banten.
Pada usia 15 tahun, Syaikh Nawawi menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan tinggal selama 3 (tiga) tahun, ia belajar dari berbagai ulama terkemuka di Masjidil Haram. Setelah kembali ke Tanara, ia mengelola pesantren dan aktif mengajarkan ilmu agama. Namun, karena kondisi politik yang tidak kondusif, akhirnya ia kembali ke Mekkah dan terus menimba ilmu.
Syaikh Nawawi dikenal sebagai penulis produktif dengan lebih dari 115 kitab yang mencakup berbagai bidang ilmu; termasuk fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadist. Kitabnya banyak diadopsi di pesantren-pesantren di Indonesia dan menjadi bagian dari kurikulum utama hingga saat ini. Bahkan Ia dikenal sebagai bapak Pesantren Indonesia, meskipun bukan pendiri pesantren pertama, pengaruhnya sangat besar dalam tradisi keilmuan di pesantren.
Beliau meninggal di Mekkah pada tahun 1314 H (1897 M). Ia dihormati sebagai Sayyid Ulama al-Hijaz dan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia, terutama melalui murid-murid yang melanjutkan ajarannya. Gelar kehormatan diberikan kepadanya, termasuk al-Mufti dan al-Faqih, yang mencerminkan kedalaman ilmunya. Beliau tetap dikenang sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah keilmuan Islam di Indonesia dan dunia, dengan kontribusi yang terus berlanjut hingga kini.
Salahsatu karyanya adalah Kitab Nashoihul ‘Ibad, terdapat bermacam pembahasan didalamnya. Dalam tulisan ini mengambil pembahasan mengenai 6 (enam) perkara yang menjadi penyebab rusaknya hati. Keenam hal ini merupakan bagian dari nasihat agar manusia menjaga hati, karena hati adalah pusat dari amal dan niat.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda: “Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam kesempatan Khutbah Jum’at, di Masjid Jami’ Subulus-Salam Komplek Pondok Pesantren As-Salamah, Bojong Pondok Terong, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Ustadz H.M. Rusli Widya Permana, SE menyampaikan kutipan dari Kitab Nashoihul Ibad, (kitab yang mensyarahi kitab Al- Munabbahat Alal Isti’dadi Liyaumil Ma’aad Karya Syaikh Sihabuddin Ibnu Hajar al-Asqolani), Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi mengutip Maqalah dari Imam Hasan al-Bashri, menjelaskan, terdapat enam penyebab yang bisa merusak hati, diantaranya:
Pertama, sengaja berbuat dosa dengan harapan kelak taubatnya diterima. Orang seperti ini menunda taubat dan meremehkan dosa, seolah yakin bahwa dia pasti akan sempat bertaubat. Padahal, tidak ada jaminan umur dan hidayah selalu bersamanya.
Kedua, mempunyai ilmu namun tidak mengamalkannya. Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Hati menjadi keras karena tidak ada cahaya dari amal. Bahkan, ilmu itu bisa menjadi hujjah (argumen) yang membinasakan di akhirat nanti.
Ketiga, beramal namun tidak ikhlas. Beramal dengan tidak ikhlas seperti tubuh tanpa ruh. Ia tidak akan sampai kepada Allah Swt. Amal seperti ini biasanya hanya ingin dipuji oleh manusia.
Keempat, memakan rezeki dari Allah Swt namun tidak mau bersyukur. Menikmati karunia Allah Swt tanpa rasa syukur akan menyebabkan hati mati. Syukur itu menghidupkan hati dan menambah nikmat. Bersyukur adalah tanda menyadari betapa banyak nikmat yang Allah Swt berikan, meskipun sering melupakannya.
Kelima, tidak ridho dengan pemberian dari Allah Swt. Orang yang tidak ridho akan selalu merasa kurang dan gelisah. Hatinya dipenuhi hasad, dengki dan keluh kesah, sehingga akan jauh dari ketenangan.
Keenam, sering ikut menguburkan orang meninggal tetapi tidak mengambil pelajaran darinya. Sering menyaksikan kematian seharusnya dapat menyentuh dan menyadarkan hati, serta mengingatkan akan mendapat giliran. Tetapi bagi hati yang sudah keras, maka melihat kematianpun tidak dapat menyadarkannya. Ingatlah ungkapan; “Kafa bil mauti wa idhon” artinya; “Cukuplah kematian sebagai peringatan (pemberi nasehat).
Kitab Nashoihul ‘Ibad yang merupakan salahsatu kitab klasik literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab yang berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi pembacanya -khususnya umat Islam-.
Salahsatu fokus utama Kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, saling tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.
Wallahua’lam bishowab. Barokallahu fii kum.
Kontributor : Sekretaris DMI Kel. Boponter.
Tulis Komentar