081286968485

Kita Semua Hanya Tamu.Oleh : AHMAD NURUL IKHWAN (Pengasuh Rubrik Catatan Qolbu)

$rows[judul]

Labuan, Banten. – Manakala kita bertemu dengan guru akan mendapat ilmu. Bertemu dengan kiyai bisa tholabul ‘ilmi. Bertemu dengan teman mendapat pengetahuan. Bertemu dengan orang tua serta keluarga senantiasa mendapat do’a. Itulah yang terjadi saat silaturrahmi sekaligus menghadiri akad nikah dan resepsi pernikahan adinda tercinta; Dwi Irfan Sudrajat (ii), putera kedua Bpk Arif Hidayat (alm) & Ibu Siti Julpah, S.Pd, dengan Fatimah Azhara (ara), puteri ketiga Bpk Arifudin & Ibu Juju Julaeha, pada Sabtu 06 Juni 2026 M / 20 Dzulhijjah 1447 H, di Kp. Masjid Timur, Labuan, Pandeglang, Banten. 

Tidak pernah diduga, saat duduk di kursi menghadiri persiapan ijab qobul pernikahan adik ternyata diapit oleh para kiyai, tokoh masyarakat, dan sesepuh Kota Labuan. Walau acaranya walimatul ‘ursy tetapi obrolannya mengarah seputar keberadaan kita di dunia ini. Bah kiyai bilang, “kita di dunia ini hanyalah tamu yang pasti kembali ke asalnya”.

Saat ditanya, maksudnya apa yah bah Yai? Beliau menjawab; “Kita sering mendengar kalimat Dhuyuufur Rahmaan" yang artinya "Tamu-tamu Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang". Biasanya orang menyebut tamu Allah Swt kepada para jamaah haji dan umroh yang datang bertamu ke Baitullah, Rumah Allah di Makkah. Padahal, sejatinya kalimat "Dhuyuufur Rahmaan" itu untuk kita semua yang saat ini hidup di Bumi untuk sementara waktu. Karena, kita semua adalah tamu di sini, bukan penduduk asli bumi. Di dunia ini hanya sementara dan akan kembali ke asal kita yaitu Surga. 

Kita semua adalah penduduk asli Surga, karena ayah, kakek dan nenek kita Adam dan Hawa yang awalnya bertempat tinggal disana. Kita ini semua adalah anak-anak Adam. Oleh karena itu, sebelum kita ikut kloter kuburan yang akan membawa pulang ke Surga untuk selamanya, maka persiapkanlah diri dengan sebaik-baiknya, dengan persiapan Bekal terbaik untuk perjalanan, berupa Amal Sholeh dan Taqwa, serta jangan membawa Beban yang memberatkan dan merepotkan selama di perjalanan itu (kuburan) berupa dosa-dosa duniawi. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 197: "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." 

Maka, berupayalah terus berbuat baik memberikan manfaat untuk diri, keluarga dan orang lain. Berbuat baik, beramal sholeh sekuat tenaga dan semaksimal mungkin, agar bisa ikut serta bersama rombongan kafilah orang-orang sholeh yang akan menuju kembali ke Surga, tempat yang Maha Indah, luas dan nyaman. Jangan sia-siakan waktu di Bumi yang sangat kecil ini. 

Rasulullah Saw pernah menegaskan, saat ditawari akan dibuatkan kasur empuk oleh para sahabat, karena sahabat-sahabat Rasul tidak tega sering melihat bekas tikar kasar di pipi dan punggung Rasul saat baru bangun tidur. Kemudian Rasulullah Saw menjawab: “Apalah artinya dunia ini bagiku, aku di dunia ini hanya sebagai seorang Pengembara yang mampir sejenak berteduh di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya". Dan terbukti: Rasulullah Saw hidup hanya 63 tahun. Dan rata-rata para sahabat berusia sama; Abu Bakar Ra, Sayyidina Umar Ra, Sayyidina Ali Ra wafat diusia 63 tahun. Hanya Sayyidina Utsman bin Affan Ra yang sedikit agak lama yaitu usia 82 tahun. Mereka semua kini berada di Alam Barzakh (kuburan) sebagai "Ruang Tunggu" sudah hampir dari 1.445 tahun. Sampai kapan mereka menunggu? Sampai "Yaumul Qiyaamah" atau Hari Qiamat. 

Sahabat Ali Bin Abi Thalib Ra bertutur: “Dunia adalah tempat lewat, bukan tempat tinggal. Di dalamnya ada dua golongan manusia: Satu golongan yang menjual diri demi dunia, maka dunia pun mencengkram dan mencekiknya. Satu golongan lagi, menjual dunia demi akhiratnya, maka dunia pun memberikannya kebebasan hidup”. Sungguh kehidupan di Bumi ini sebentar saja. Maka manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya demi akhirat yang kekal dan Abadi.

Mari berdo’a, semoga Allah Swt memberikan kemudahan dan kemampuan untuk selalu sadar dan mengingat bahwa hidup di dunia adalah sementara. Dan Allah Swt senantiasa membimbing kita untuk selalu mengingat-Nya, bersyukur dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Aamiin ya robbal ‘aalamiin. 

Dalam sambutan penyerahan dan penerimaan untuk kedua mempelai (pihak pengantin pria dan wanita), bah kiyai berharap kedua mempelai saling mencintai, menghormati, menghargai, dan saling memahami agar perjalan hidup rumah tangga mendapat dan menjadi keluarga Sakinah, mawaddah, warahmah, walmutma’innah. 

Kebahagiaan awal dari para pengantin adalah; ketika aku mencintai dia, dia juga mencintai aku. Ketika orangtuaku menyetujui dia, orangtua dia menyetujui aku, dan yang lebih membuat Bahagia adalah ketika Allah Swt meridhoi perkenalan kita sehingga dapat menuju ke pelaminan sebagai bukti cinta yang serius dan tulus Ikhlas. 

Barokallahulaka wabaroka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khoir.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)

Instagram Feeds