Tanah Baru. Tulisan ini terinspirasi kembali saat menyusun buku berjudul “Menghadirkan Tuhan di Tempat Kerja” bersama pimpinan redaksi Majalah Sabili yang kini menjabat Ketua Dewan Dakwah Indonesia (DDI) Provinsi Jakarta. Buku yang membahas perjalanan spiritual sebagai pergerakan tubuh dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam perjalanan ziarah waktu di kampung, keliling ke makam keluarga hingga ke makam tokoh-tokoh dan ulama Banten seperti; Syaikh Asnawi Caringin, Syaikh Daud Cigondang, Syaikh Mansyur Cikaduwen, Syaikh Maulana Yusuf Kasunyatan Banten, Syaikh Jamaludin Merak, Syaikh Maulana Sholeh Gunung Santri Cilegon, Sultan Maulana Hasanudin Banten dan lainnya. Makna terdalam ingin silaturrahmi dengan para tokoh ulama jaman dahulu, sehingga merasakan perjalanan napak tilas dan kesadaran diri. Ziarah kepada tokoh-tokoh sejarah penyebar Islam bukan sekadar napak tilas romantik, melainkan ruang refleksi dan evaluasi diri.
Begitu halnya ketika ziarah ke makam Rasulullah SAW yang Allah Ta’ala muliakan berada di lingkaran Raudhah Masjid Nabawi Madinah Al Munawwarah, begitu penuh sesak orang-orang Islam yang mengaku ummatnya berebut ingin melihat tempatnya berada walau hanya dengan mengucapkan salam kepadanya, sesungguhnya kita sedang bercermin pada diri sendiri, sejauh mana nilai-nilai kenabiannya hidup dalam tingkah keseharian.
Dalam diri manusia, manakala merasa bahwa Allah Ta’ala selalu hadir dalam kehidupannya berarti seseorang itu memiliki kesadaran penuh. Sebaliknya, ketika lengah, egois dengan mudah mengambil alih peran ketuhanan dalam diri. (Seolah-olah semua yang diharapkan harus terlaksana). Orang sebaik Rasulullah SAW dengan sifat akhlakul karimah dan gelar al amin (dipercaya) saja banyak yang membencinya bahkan berupaya membunuhnya. Tidak pernah beliau mewariskan emosional, beliau peluk dengan kewarasan agar tidak menjelma menjadi sumber dendam atau legitimasi kekerasan di masa mendatang (kini). Di sinilah spiritualitas bertemu dengan tanggung jawab, etika moral.
Kehidupan manusia dapat dipahami sebagai sebuah panggung batin. Setiap orang akan membangun panggungnya sendiri. Pertanyaan sederhana, bukan siapa yang tampil di panggung, melainkan siapa yang menjadi sutradara. Tanpa kesadaran ini, yang seharusnya menjadi sutradara (Allah Ta’ala) dapat tergeser menjadi sekadar simbol, sementara egois mengambil alih kendali.
Manusia memang dianugerahi naluri ketuhanan, tetapi juga membawa kecenderungan kesenangan; pada pasangan, keturunan, harta, kekuasaan, dan kedudukan. Ketika kecenderungan ini dibiarkan tanpa pengelolaan kesadaran diri, maka dengan mudah akan memperalat agama, ideologi, bahkan peran publik. Pentingnya tauhid, bukan sekadar doktrin teologis, melainkan disiplin kesadaran. Setidaknya ada empat unsur penting dalam kalimat tauhid menjadi kunci hidup: La ilaha -kesadaran akan banyak “tuhan” palsu yang berebut kuasa; illa -keberanian memilih; Allah -peneguhan orientasi nilai; dan Muhammad Rasulullah -keteladanan sebagai proses belajar tanpa henti.
Tantangan tauhid ini terasa sangat manusiawi. Saat Jamaah dari penjuru dunia datang ke Masjid Nabawi dan Masjidil Haram dengan masing-masing membawa identitas; mazhab, kelompok, kebangsaan, aliran, bahkan kepentingan duniawi. Identitas ini sering kali menghambat proses melepaskan egois. Dimanakah letak tauhid kita yang sering terucapkan: “Laa ilaha illallahu Muhammadur Rasulullah”. Sekadar janji atau basa basi ?
Padahal dalam Al-Qur’an Surat Al’Alaq
ayat 14, Allah Ta’ala berfirman; “Tidakkah dia mengetahui bahwa
sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)”?
Tulis Komentar